Pages

Senin, Januari 14, 2013

Kampung Halamanku Hulu Sungai Utara


ASAL MULA KOTA AMUNTAI


Maskot Kota Amuntai Itik Alabio

Cerita atau riwayat tentang kota Amuntai ini tak begitu jelas, karena kurangnya bahan-bahan tertulis. Hanya ada kabar yang tertua dan tertulis dalam kitab Nagara Kertagama (1365 M) hasil karya Empu Prapanca di zaman jayanya Kerajaan Majapahit, bahwa pada kitab itu ada menyebutkan nama Barito, Sawuku dan Tabalong. Justru yang dimaksud Prapanca, nama-nama itu adalah di daerah kita, Kalimantan Selatan ini.

Ketika Empu Jatmika dengan ekspedisinya berkapal Prabayaksa, awal memasuki daerah Kahuripan yang disini sudah ada penguasanya berkedudukan di Palimbangsari (sekarang Desa Palimbangan), maka Empu Jatmika membangun percandian Candi Agung. Empu Jatmika memproklamasikan dirinya sebagai Raja sementara di candi, dan ia sekaligus memberikan nama daerah itu Negara Dipa. Negara Dipa berasal dari bahasa Sansekerta, artinya Negeri bercahaya terang benderang.

Reruntuhan Candi Agung

Telaga Darah Empu Mandastana

Peninggalan alat-alat pertapaan di Museum Candi Agung

Areal komplek Candi Agung 

Situs pertapaan Pangeran Suryanata

Objek wisata Candi Agung

Pusat kerajaan Negara Dipa dengan percandian Candi Agung yang hinduistis terletak tak jauh dari tepian Kali Tabalong, yaitu dekat pertigaan Sungai Tabalong, Sungai Balangan dan Sungai Negara. Tepatnya sekarang, di bantaran sungai kecil Pamintangan, disinilah areal Candi Agung. Hal tersebut terjadi pada abad XIV Masehi.

Kemudian sejak kapan munculnya nama Amuntai atau Hamuntai, ceritanya bersimpang siur. Menurut penuturan para orang tua di sekitar Candi Agung, bahwa nama ini berasal dari penemuan banyaknya buah muntai di tepian sungai sekitarnya, sehingga ia diberikan nama untuk kota ini. Akan tetapi sampai sebegitu jauh, orang belum dapat mengetahui bagaimana wujudnya buah tersebut.

Sementara itu, jika mengacu pada Surat Keputusan Sultan Adam al Wasyikbillah, tanggal 20 Rabiul Awal 1263 (bertepatan dengan tahun 1843 Masehi), mengenai hak apanage keluarga raja-raja dalam Kerajaan Banjar, sudah ada disebutkan nama kota Amuntai, disamping nama-nama lainnya seperti Babirik, Sungai Karias, Tanah Habang, Kusambi, Lampihong, Tabalong, Halabio, Bitin, Danau Panggang, Paran, Balangan dan lain-lain.

Begitupun pada 21 Maret 1865, sewaktu Asisten Residen K. W. Tiedke memerintah daerah ini (termasuk Alai, Amandit, Tabalong dan Kelua) ternyata kotanya telah bernama Amuntai.

Selanjutnya lagi M. Halewijn, seorang pejabat tinggi Belanda di Borneo, dalam laporannya yang berjudul "A Journey to Banua Lima in the Year 1825" (Laporan Perjalanan ke Banua Lima Tahun 1825) tercantum dalam "Tijdschrift voor Nederlands Indie", te Jaargang, Volume 2 (1838), antara lain menyebutkan bahwa perjalanannya naik perahu dari Marabahan (24 November 1825) menyusuri Sungai Nagara dan Sungai Banar, melihat perkampungan rakyat yang indah di Amuntai, lalu terus ke Kalua . . . dan seterusnya.

Amuntai Tempoe Doeloe (1910-1940)

Pemakaman Belanda

 Amuntai terdiri dari daerah rawa (1933)

Maka dari beberapa catatan di atas, yang tertua adalah laporan dari M. Halewijn (1825) bahwa disini kotanya sudah bernama Amuntai. Namun masih ada petunjuk lain yang perlu kita cermati.

Sebuah buku karya Johannes Jacobus Rass yang berjudul "Hikayat Banjar", A Study in Malay Historiography" yang diterbitkan di s'Gravenhage (Negeri Belanda) tahun 1968, menceritakan bahwa setelah huru-hara Banjarmasin diserang dan diberondong tembakan meriam-meriam VOC / Belanda pada tahun 1606, dimana pahlawan-pahlawan Banjar berhasil membunuh semua awak kapal Belanda itu, namun akhirnya pusat Kerajaan Banjar di Kuin itu terpaksa ditinggalkan dan mereka berevakuasi ke Kayu Tangi.

Penguasa Sultan Musta'inullah sebelum berevakuasi ke Kayu Tangi, ia sempat bertikai dengan para bawahannya mengenai alternatif kemana pusat pemerintahan Kerajaan Banjar ini sebaiknya dipindahkan. Ada sementara petinggi mengusulkan, agar kembali saja ke Hamuntai (di Negara Dipa) sebagai tanah leluhur mula jadinya Empu Jatmika ini. Namun Sultan Musta'inullah tetap bersikukuh dengan pilihannya "kita jangan bebulik lagi ka Hamuntai, karena aku dapat mimpi, ada tegoran dari leluhur kita Pangeran Surianata, baiknya kita membuka negeri baru di Sungai Mangapan (Tambangan)".

Arahan Sultan ini disetujui oleh para pengikutnya, lalu membangun negeri baru tersebut. Namun tak lama di Mangapan, 10 tahun kemudian, pusat pemerintahan berpindah lagi ke Kayu Tangi.

Dari cuplikan buku J.J. Rass di atas (halaman 464) terdapat nama Hamuntai yang tertulis sebagai direncanakan untuk pusat kerajaan (sesudah Kuin / Banjarmasin) dan sebelum Kayu Tangi. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1606, yaitu di tahun-tahun awal merajalelanya imperialis / VOC di Kalimantan Selatan.

Sumber lain yang ditemukan dalam penelitian sejarah di daerah ini, pada tahun pasca huru-hara Banjarmasin, ada diantara petugas VOC  yang datang ke areal Candi Agung di Amuntai, meninjau daerah cikal bakal Empu Jatmika tersebut. Masyarakat disini selalu membanggakan Candi Agung kepada setiap tamu yang datang. Percandian tersebut letaknya di "Mungkur" yang agak ketinggian, oleh mereka disebut gunung. Menjadi kebiasaan penduduk disini menyebutkan "Gunung Candi", sehingga bagi orang yang ingin pergi ke lokasi itu, dikatannya "pergi ke gunung".

Bagi orang barat, istilah "gunung" atau "ke gunung" ini menunjukkan nama suatu areal yang dimaksud, yaitu "Gunung Candi Agung" (A Mountain Candi Agung). Masyarakat umumnya selalu suka meniru-niru istilah asing, walaupun lidahnya tak mampu mengucapkan secara sempurna. Kadang-kadang juga pendengaran tak sesuai dengan ucapan, sehingga istilah yang berasal dari "a mountain" itu menjelma menjadi "Amunten" lalu berubah lagi jadi "Amuntai", bahkan ditambahkan menjadi "Hamuntai".

Pada akhirnya, jika bertolak dari huru-hara penyerangan VOC / Belanda terhadap Kota Banjarmasin (Kuin) pada tahun 1606, kemudian pada tahun 1615 Inggris membuka factory  (Kantor Dagang) di Kayu Tangi, wajarlah jika pedagang Inggris tersebut meninjau "Gunung Candi" di Amuntai, yang oleh masyarakat disini disebutkannya "Amunten" atau "Amuntai" hingga sekarang. Mungkin ini suatu hipotesis, bahwa kota bernama "Amuntai" telah berusia lebih dari 400 tahun.          

Dikutip sepenuhnya dari Buku "Kampung Halamanku Hulu Sungai Utara" karya Anggraini Antemas
 

0 komentar:

Poskan Komentar